Peringatan Hari TB Sedunia: Mengenal TB dan Penanggulannya




Masih teringat jelas dalam ingatan, saat Fathan yang saat itu berusia 14 bulan divonis TB. Saat itu, saya dan istri pasrah dengan vonis dari dokter dan menyerahkan pengobatan kepada dokter dan pihak rumah sakit. Sungguh kami tidak menyangka bahwa anak sekecil itu bisa terkena TB. Muncul berbagai pertanyaan di benak kami? Dari siapakah bakteri penyebab TB berasal? Kami berdua merasa tidak punya riwayat TB. Namun, akhirnya kami ikhlas dan fokus pada pengobatan Fathan.

Fathan masuk rumah sakit karena suhu badan yang tinggi. Saat masuk ruang UGD, dokter hanya bilang ada kemungkinan Fathan terkena infeksi. Lalu, pemeriksaan lab selanjutnya menyatakan Fathan terkena TB. Selama 5 hari Fathan dirawat di rumah sakit. Selepas dari rumah sakit, Fathan harus menjalani pengobatan selama 6 bulan. Miris rasanya melihat balita yang lucu ini harus meminum obat selama 6 bulan. Terkadang, fathan ngamuk tidak mau minum obat. Orang dewasanya saja bisa jenuh jika harus minum obat setiap hari selama berbulan-bulan apalagi seorang balita.

Tentunya saya tidak kejadian buruk tersebut menimpa kami lagi. Oleh karena itu saya semangat ikut Workshop Kampanye Media Sosial dalam Peringatan Hari TB Sedunia.  Acara ini diadakan oleh Kementerian Kesehatan pada hari Selasa, 22 Maret 2016 di Ruang Arslonga, Badan Litbangkes, Kementerian Kesehatan. Saya semangat mengikuti kegiatan ini  tidak ingin kejadian menimpa saya menimpa orang lain. Saya ingin, saya dan masyarakat  lebih waspada terhadap TB dan tahu bagaimana cara menanganinya.

Dalam acara ini, hadir dr.Asik Surya, MPPM, sebagai pembicara. Beliau menjelaskan dengan tuntas apa itu TB dan bagaimana cara penanganannya.

Apa itu TB?
Masyarakat kita mengenal istilah TBC yang tidak lain merujuk pada TB. TB sendiri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Bakteri ini ditemukan oleh seorang ilmuwan bernama Robert Koch pada 24 Maret 1882. Sejak saat itulah, tanggal 24 Maret menjadi Hari TB Sedunia. 


TB merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Micobacterium Tuberculosis). TB bukanlah penyakit turunan sehingga siapa pun bisa mengidap penyakit ini. Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tapi ada juga yang menyerang organ lain seperti tulang, kelenjar, kulit, dan lain-lain. TB dapat menyerang siapa pun, biasanya menyerang usia produktif, sekitar 15-50 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan menyerang anak-anak seperti yang terjadi pada Fathan. TB bisa menyebabkan kematian jika tidak diobati segera. 

Bagaimana Cara Penularan TB?
Sampai saat ini masih ada pertanyaan mengganjal dalam benak saya, dari mana Fathan mendapatkan bakteri TB? Setelah melihat simulasi penularan TB, ternyata penularannya mudah sekali. Orang yang mengidap TB bisa menularkan bakteri TB melalui udara, seperti saat bercakap-cakap, bersin, atau batuk. Sementara itu, saya tidak tahu siapa saja orang di sekitar Fathan yang mengidap TB. Saat itu, Fathan dititipkan di Day Care. 


Penularan TB memang berbahaya karena satu orang yang mengidap TB aktif bisa menulari 10 sampai 15 orang per tahunnya. Sungguh massif yah penularannya.  Selain penularannya yang massif, pengobatan TB juga membutuhkan waktu yang cukup lama . Waktu itu, pengobatan pada Fathan dilakukan selama enam bulan. BIaya berobatnya pun lumayan menguras dompet. Namun, demi kesembuhan buah hati, tentunya saya tidak akan perhitungan, yang penting anak sehat dan tumbuh kembangnya tidak terganggu. 

Penanggulangan TB
Alhamdulillah, ternyata sekarang pengobatan untuk penyakit TB sudah semakin mudah. Hal ini dikarenakan pemerintah berkomitmen untuk menanggulangi TB. Penanggulangan TB merupakan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Strategies (Renstra) Kementerian Kesehatan 2015-2019. Tidak heran kalau sekarang pengobatan TB bisa dilakukan di tingkat Puskesmas dan tanpa dipungut biaya alias gratis. 

Pengobatan terhadap TB memang harus dilakukan secara tuntas. Fathan pun menjalani pengobatan selama 6 bulan sampai dinyatakan sehat dan tidak ada lagi kuman TB di parunya. Jika pengobatan TB tidak tuntas akan memunculkan masalah TB kebal obat (Multi Drug Resisten/MDR). Nah, jika kasus MDR tidak ditangani dengan tuntas akan berkembang menjadi XDR atau Xtra Drug Resisten. Kalau sudah begini tentu pengobatannya akan lebih sulit lagi. 



Pemerintah sangat peduli dengan kesehatan masyarakat sehingga memunculkan program-program untuk menanggulangi TB. Di antaranya yaitu Gerakan Temukan TB Obati Sampai Sembuh (TOSS TB). Hal ini diperlukan kerja sama antara masyarakat, tenaga kesehatan dan pemerintah agar program bisa berjalan lancar. Dengan adanya gerakan ini diharapkan pasien TB segera dapat teridentifikasi dan segera dilakukan pengobatan. Harapannya gerakan ini bisa dilakukan massal sehingga bisa menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Pemerintah juga mendorong seluruh pemberi pelayanan TB untuk memberikan pelayanan TB standar. Diharapkan juga dapat dilakukan peningkatan kewaspadaan dengan menemukan pasien TB sedini mungkin.Sehingga pasien bisa mendapatkan pelayanan TB berkualitas dan tidak sampai terjadi TB MDR. Hal ini dapat terjadi jika dilakukan identifikasi suspek TB sejak dini dan dilakukan pengobatan secara intesif.
Sebagai seorang ayah yang pernah merasakan bagaimana sedih menghadapi kenyataan anak menderita TB, saya merasa sangat perlu melakukan kampanye TB. Hal itu dikarenakan data yang ditemukan bajwa sebanyak 22% masyarakat Indonesia tidak tahu gejala TB. Selain itu sebanyak 27% tidak tahu TB dapat disembuhkan sehingga menghentikan pengobatan akibatnya bisa berdampak MDR. Rasanya perlu disebarluaskan lagi informasi bahwa pengobatan TB itu gratis karena masih sebanyak 81% masyarakat Indonesia tidak tahu obat TB gratis. 

Diharapkan melalui keikutsertaan saya memberikan informasi mengenai TB, bisa meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap penularaan TB. Selain itu bisa melakukan identifikasi sejak dini terhadap suspek TB Sehingga bisa cepat ditangani. Saya juga berharap semakin banyak masyarakat yang mendapatkan informasi mengenai TB dan dapat menanganinya dengan tepat.


  




Peringatan Hari TB Sedunia: Mengenal TB dan Penanggulannya Peringatan Hari TB Sedunia: Mengenal TB dan Penanggulannya Reviewed by Fauzi Nurhasan on 00.58 Rating: 5

4 komentar:

  1. kejadian yang tentunya menyedihkan bagi orangtua

    BalasHapus
  2. yuk kita lakukan tindak preventif
    minimal buat diri sendiri
    salam sehat

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.