Upaya Pemerataan Tenaga Kesehatan Melalui Nusantara Sehat



“Neng Listie mau jadi dokter,” ucap ibuku sambil menatap putri bungsunya yang masih duduk di banggku sekolah menengah. Ibu saya memang bekerja di bidang kesehatan sebagai bidan, adik saya pun bidan. Saya juga punya keponakan seorang dokter. Mungkin karena hal itulah, tiba-tiba ibuku bilang Neng Listie jadi dokter kelak.

Memupuk mimpi sejak dini memang tidak masalah. Saya berharap semoga sebagai seorang kakak bisa mendukung cita-cita dan keinginan adik bungsu.  Bukanlah hal rahasia jika profesi dokter memang banyak dicita-citakan oleh orangtua pada umumnya. Profesi ini merupakan profesi prestisius di  masyrakat. Wajar saja karena menempuh pendidikan sebagai seorang dokter memanglah sulit dan memakan biaya yang sangat besar. Sehingga tidak banyak orang yang berhasil menjadi seorang dokter. Namun, seiring dengan pertumbuhan jumlah masyarakat, kebutuhan terhadap dokter terus meningkat. Apalagi kebutuhan dokter di daerah terpencil sangatlah dibutuhkan.


Jumlah dokter di Indonesia saat ini sebenarnya sudah mencukupi. Perbandingannya 1:2500, artinya satu orang dokter mampu melayani minimal 2.500 pasien. Akan tetapi, permasalahannya adalah jumlah dokter di Indonesia belum merasa. Jumlah dokter di kota besar dan di daerah tidak seimbang. Hal tersebutlah yang menjadi topic bahasan dalam diskusi public Nusantara Sehat: Karier dokter dan dokter gigi di era JKN. Acara diskusi ini digelar di gedung Adiyatma Kementerian Kesehatan Jakarta pada hari Selasa, 19 Juli 2016. Diskusi dipandu oleh Maman Suherman dan Ira Koesno. Acara ini dihadiri juga oleh tenaga medis pemerintah dan swasta serta fakultas-fakultas kedokteran di Indonesia.

Topik utama diskusi ini adalah mengenai peranan pemerintah dalam mendistribusikan dokter dan tenaga medis ke daerah-daerah, terutama daerag terpencil. Sehingga diharapkan dapat terjadi pemerataan pelayanan kesehatan masyarakat. Penyebaran yang merata tersebut dimulai dari dokter, bidan, dokter gigi, analisis kesehatan, dan tenaga medis-tenaga medis lainnya. Langkah selanjutnya dibuatlah tim kesehatan yang diberi nama Nusantara Sehat. Ide pembentukan ini digulirkan oleh Menteri Kesehatan, Nila Moeloek. Hal ini merupakan langkah konkret dari pemerintah untuk melakukan pemerataan tenaga kesehatan dan sebagai alternative pengganti program tenaga dokter PTT yang akan segera berakhir pelaksanaannya.

Program Nusantara Seh at merupakan salah satu bentuk kegiatan yang dicanangkan oleh Kemenkes dalam upaya mewujudkan fokus kebijakan tersebut. Program ini dirancang untuk mendukung pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan Kartu Indonesia Sehat (KJS) yang diutamakan oleh Pemerintah untuk menciptakan masyarakat yang sehat serta berkeadilan. Program ini diharapkan dapat memperkuat pelayanan kesehatan di Puskesmas daerah terpencil, tertinggak, perbatasan, dan kepulauan (DTPK).
Sejak tahun 2015 sudah ditempatkan 120 tim tenaga kesehatan yang terdiri atas dokter, dokter gigi, perawat, bidan, tenaga gizi, tenaga ahli, laboratorium medik, tenaga kesehatan lingkungan, tenaga farmasi, dan tenaga kesehatan masyarakat.

Namun, ada beberapa kendala dalam pelaksanaan program ii yaitu masih sedikitnya peminat yang mengisi tenaga medis dokter dan dokter gigi. Hal ini menyebabkan banyaknya tim yang bekerja tidak diserta dokter atau dokter gigi. Padahal program ini memiliki kelebihan dibandingkan dengan program dokter PTT yaitu program ini dilakukan berbasis tim sehingga pelayanannya pun lengkap. Tim pun sebelum diberangkatkan mendapatkan training dan pelatihan selama lima minggu.

Tim Nusantara Sehat dibekali pelatihan bela negara dan menjalani pelatihan semi militer. Tim diajarkan bagaimana saat harus berada di area perang, adanya letusan senjata api. Diajarkan juga kemampuan merayap dan berguling untuk menyelamatkan diri. Pelatihan terebut dilakukan sebagai antisipasi karena tim ini akan ditempatkan juga di puskemas yang berada di perbatasan negara lain.

Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr.dr Nila Moeloek, SpM(K)
“Nusantara Sehatkan diharapkan dapat menekan beberapa masalah kesehatan yang masih tinggi yaitu angka kematian ibu dan bayi, gizi buruk, obesitas, dan penyakit tidak menular lainnya,” ucap Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Moeloek SpM(K).

“Pilihan menjadi tim Nusantara Sehat adalah keinginan untuk mengabdi kepada masyarakat terpencul yang kekuranfan fasilitas kesehatan,” ungkap dr. Mari S.Purba saat menceritakan bagaimana pengalamannya menjalani tugas bersama Tim Nusantara Sehat selama dua tahun di distrik inati Kabupaten Boven Digul. 
Menjadi tim Nusantara Sehat tentunya merupakan pengalaman unik yang bahkan terjal seperti pengalaman dr.Firman Budi yang sempat mengalami sakit malaria saat bertugas di distrik Iwur, Kabuaten Pegunungan Bintang.

“Pelatihan bela negara selama training mempertebal keingianan saya untuk mengabdi di daerah terpencil,” ungkap dr. Firman.


Diskusi bergulir pada permasalahan mengenai belum jelasnya kelanjutan karier dokter Tim Nusantara Sehat. Hal ini memang sedang masa penggodokan oleh pemerintah dan Kementerian Kesehatan pun mengupayakan pemberian beasiswa bagi peserta Nusantara Sehat. Walapun para dokter tersebut tidak secara otomatis mendapatkan beasiswa karena harus menjalani berbagai test untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Harapan dari para peserta adalah adanya MOU antara Kemenkes dan Dirjen Ristek Dikti yang menyebutkan bahwa para peserta Nusantara Sehat setelah menyelesaikan tugasnya dapat melanjutkan jenjang pendidikan spesialis kedokteran.

“Kemenkes akan berupaya membantu,” ucap  Menteri Kesehatan yang segera pamit dari acara karena akan menghadiri  sidang kabinet bersama presiden.

Program tim Nusantara Sehat akan terus bergulir dan diharapkan semakin banyak peminat yang mengisi kekosongan tenaga kesehatan seperti dokter dan dokter gigi. Hal ini untuk meningkatkan pemerataan kesehatan pelayanan kesehatan.

.


Upaya Pemerataan Tenaga Kesehatan Melalui Nusantara Sehat Upaya Pemerataan Tenaga Kesehatan Melalui Nusantara Sehat Reviewed by Fauzi Nurhasan on 16.41 Rating: 5

2 komentar:

  1. Memang masih dibutuhkan ya dokter untuk daerah terpencil ya :)

    BalasHapus
  2. Semoga dengan adanya tenaga kesehatan yang di tempatkan di DPTK, dapat menghapus isu disparitas kesehatan yang melekat sepabjang zaman di negeri ini.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.